Minggu, 07 November 2010

KEAJAIBAN HIDUP PEREMPUAN RENTA DI UJUNG USIA




Hari telah larut dan semua orang meninggalkan pertokoan itu kecuali si perempuan tua renta yang duduk seorang diri dalam bayang – bayang dedaunan pohon yang berdiri di depan lampu listrik itu. Di siang hari jalanan penuh debu, tetapi pada malam hari embun melengketkan debu ke jalan. perempuan renta itu duduk  hingga larut malam, dan pada malam hari suasana menjadi hening, dan dia dapat merasakan suasana hening itu.
Perempuan renta bernama Saodah itu berperawakan pendek, berkulit kehitaman, dengan rambut yang sudah beruban, mengenakan baju seadanya dan kering di badan. Setiap hari perempuan renta itu hidup di jalan bersama gerobaknya yang menjadi penompang hidupnya selama ini.
Dia merebahkan tubuhnya kedinding dekat pintu toko sambil melayangkan pandangan kosong, dibawah dedaunan pohon yang bergoyang – goyang sesekali kena angin. Dalam keheningannya dia meratapi tiap lembar kehidupan hitam, kelam masalalunya dan selalu berfikir agar esok hari dia bisa melakukan hal yang lebih baik untuk membayar dosa – dosanya selama hidupnya.
Tak lama kemudian ada seorang gadis berteriak minta tolong dengan  langkah cepat dan terburu - buru  melintas di depannya, seketika menyadarkan perempuan renta itu dari lamunannnya. bergegas dia berdiri dan menghampiri gadis itu.
“Kenapa nak, adakah yang bisa nenek lakukan untuk membantumu”? tanya perempuan renta itu,.
“Nek, bolehkah saya bersembunyi di dalam gerobak itu? Tanya gadis itu dengan wajah yang memelas, di sertai nada suara terbata – bata dengan nafas nggos – nggosan tak beraturan.
“Oh, silahkan nak!. segeralah masuk ke dalam gerobakku”.
Tanpa pikir panjang gadis itu masuk kedalam gerobak perempuan renta itu,
Tak lama kemudian datanglah segerombolan pemuda yang berlari sempoyongan,  membawa botol minum – minuman keras berakhohol sambil berteriak – teriak dengan suara yang sangat keras.
“Dimanakah gadis yang akan melayaniku malam ini.” Persetan.!” kemanakah gadis itu, kenapa larinya begitu sangat kencang,!” ocehan salah satu pemuda kepada segerombolannya yang sedang mabok dengan langkah kaki yang tidak beraturan dan tubuh yang   sempoyongan.
“Entahlah bos..” mungkin gadis itu bersembunyi di suatu tempat”. Kata salah satu pemuda.
“Persetan, kemanakah dia”?.
Mata merah penuh dengan amarah dan kebencian tiba – tiba mengarah kepada
Perempuan renta yang sedang duduk menatap gerombolan pemuda mabok itu, langkahnya pun semakin jelas menghampiri perempuan renta itu.
“Heh, nenek peot, apakah kamu melihat ada gadis yang berlari melewati jalan ini?,”tanya salah satu pemuda itu, sambil medorong bahu tuanya.”
“Tidak nak. Saya tidak melihat ada gadis yang berlari melewati jalan sini” dengan suara lirihnya.
“Benarkah?”. Apakah kamu tidak berbohong nenek peot?” dengan suara lantang disertai  mata melotot seperti bola matanya mau keluar dari kelopak matanya.
“Tidak nak, saya tidak melihat gadis itu”. Menjawab dengan nada suara lirih,penuh kecemasan.
“Ya sudah, Ayo kita pergi dari tempat ini, kita cari gadis itu di tempat lain”.

Akhirnya segerombolan pemuda  pergi, sedikit lega perasaan perempuan renta tua itu, dengan penglihatannya yang kabur karena di makan usia, nenek itu memperhatikan langkah kaki segerombolan pemuda mabok yang perlahan berjalan meninggalkanya.
Tapi tak lama kemudian segerombolan pemuda itu berbalik arah dan berjalan  menghampiri perempuan renta itu lagi.
“ Heh, nenek peot, benerkah kamu tidak berbohong?”
“Bener nak saya tidak berbohong”
“Saya curiga dengan gerobakmu, apakah kamu sembunyikan gadis itu digerobakmu?
“Tidak nak, saya tidak menyembunyikan gadis yang kamu maksud digerobakku” menjawab dengan penuh ketakutan.
“Kalau begitu kita buka gerobakknya, saya penasaran dengan gerobak nenek peot ini”, perintah pemimpin segerombolan pemuda mabok”’
“Jangan nak!!!. kamu akan menyesal jika membuka gerobakku”
“Jangan banyak bicara, memang kenapa?  Dengan muka yang merah dan nada suara yang menyeramkan.
“Karena di situ banyak sampah, bangkai – bangkai binatang yang sudah membusuk, dan bau yang sangat menyenggat bisa membuat pernafasanmu terganggu, dengan begitu perlahan – lahan pasti maut akan menjemputmu karena kamu tidak terbiasa merasakan bau yang sangat menyengat. kalian bisa mendengar pernafasanku terenggah – enggah itupun karena bau yang menyengat dan ku hirup tiap hari. Apakah kalian akan tetap memaksa membuka gerobak itu dengan mempertaruhkan nyawamu?”
perempuan renta itu terpaksa berbohong kepada segerombolan pemuda yang mabok itu.
“Cuuiiihh...” ujar segerombolan pemuda sambil mengeluarkan air liur nya.  
          “Awas kalau kamu sampai berbohong, nyawamu akan jadi taruhannya” ancam segerombolan pemuda.
“Iya nak,” menjawab dengan penuh ketakutan, dan berharap agar pemuda itu segera pergi

Akhirnya segerombolan benar – benar pergi. Perempuan renta itu pun segera membuka gerobak persembunyian gadis itu.
“Terimakasih ya nek, nenek sudah menyelamatkan hidupku dari segerombolan pemuda yang berusaha melakukan tindakan asusila terhadapku” memeluk nenek sambil bercucuran air mata.
“Memangnya kamu mau kemana nak?” larut malam seperti ini keluar rumah sendirian”
“Saya kabur dari rumah nek, saya ingin tahu dunia luar karena kedua orang tua saya terlalu possessive dan tidak memberi kebebasan saya dalam bergaul”.cerita gadis berparas cantik itu.
“Kedua orangtuamu terlalu possessive karena orangtuamu peduli sama kamu, dan tidak mau anakknya terjerumus pergaulan bebas”. Nasihat bijak perempuan renta kepada gadis yang sedang menangis di pelukannya itu.
“Apakah nenek punya keluarga?. Kenapa nenek tidur disini?” tanya gadis itu.
“Nenek sebatang kara, hidup nenek pun tidak pasti, tidak punya keluarga, anak – anak semua pergi meninggalkan nenek”.
“Kenapa nek? Semakin penasaran terhadap masalalu perempuan renta itu,
“Nenek dulu adalah WTS, tapi sekarang nenek lebih memilih menjadi pemulung daripada WTS, karena pemulung lebih mulia daripada WTS, hidup pun serasa damai, tidak di sia – siakan dan di hina oleh banyak orang.nenek punya anak tapi entah pergi kemana, hidup atau mati nenek tidak tahu.” Meratapi masalalunya sambil meneteskan air matanya.
“Makanya nak jadilah orang yang berbakti kepada orang tua, masih banyak orang yang ingin hidup bercukupan seperti kamu. Seharusnya kamu bersyukur nak, Rumahmu mana? Besok nenek antar pulang kerumahmu”.
“ Iya nek, rumahku jalan Sudirman No.10.
Keesokan harinya perempuan renta  mengantarkan gadis belia itu pulang kerumahnya. Sampai di rumah kedua orang tuanya penuh suka cita menyambut kepulangan buah hatinya. singkat cerita, gadis belia berparas cantik jelita itu menceritakan kejadian yang di alami selama kabur dari rumah dan memohon kedua orangtuanya agar perempuan renta bernama Saodah  itu untuk menjadi bagian dari keluarganya. Dengan bijaksana kedua orang tua gadis itu mengijinkan nenek Saodah hidup di rumah megahnya menjadi bagian keluarganya. Perempuan renta itu tercenggang dan tidak percaya atas keajaiban hidup di ujung usianya.
                                                         
                                                                   Oleh: Diyat Saputra
                                                                   IKIP PGRI SEMARANG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar